March 7, 2010

Lima Roti Dua Ikan

Ingat dengan Prita Mulyasari? Tahun lalu namanya melejit dan tersebar di berbagai surat kabar seluruh Indonesia. Dia bukanlah seorang artis papan atas, bahkan fisiknya jauh dari kriteria tersebut. Tetapi yang membuat namanya kesohor adalah ketika dia “mampu” menggerakkan massa untuk mengumpulkan sejumlah uang demi pembebasan dirinya.

Prita yang saat itu sedang berseteru dengan RS Omni International mendapat vonis dari Pengadilan Negeri Banten untuk melunasi denda sebesar Rp. 204 juta akibat kasus pencemaran nama baik. Entah bagaimana, masyarakat yang peduli akan nasibnya kemudian menggalang aksi “Koin Peduli Prita”. Setiap orang yang peduli dipersilakan menyumbangkan sejumlah “recehannya” demi membebaskan Prita dari jerat denda tersebut.

Hasilnya? Menurut perhitungan Bank Indonesia (BI), total uang yang terkumpul mencapai Rp 810.940.402. Perhitungan koin ini mengerahkan 70 Pegawai BI dan 16 pegawai Bank Mandiri yang mesti lembur 5 hari untuk dapat mendata jumlah koin keseluruhan. Sebelum dibawa ke BI untuk dihitung, koin tersebut dikumpulkan dalam 176 karung, 7 dus, 1 peti dan 3 plastik kecil lalu diangkut oleh 10 orang relawan.

Kalau Barrack Obama pasti semua orang sudah tahu bukan? Tokoh fenomenal ini adalah Presiden Amerika berkulit hitam pertama dalam sejarah negeri Paman Sam tersebut. Dia memenangkan pemilu tahun lalu sebagai kandidat presiden dari Partai Demokrat.

Obama bukan seorang kaya raya. Dia mulai kampanye dengan modal nihil. Namun seiring dengan karismanya dan kemampuan komunikasi via dunia maya membuat dirinya menjadi “Orang Kaya Baru” dalam waktu singkat. Dan dari sanalah uang mengalir menjadi dana kampanyenya.

Tercatat 1,3 juta orang telah memberikan donasinya kepada Obama. Baru pada tahap awal pemilihan kandidat tingkat partai saja, Obama sudah berhasil mengumpulkan sekitar 1 miliar dollar AS, jauh lebih banyak dari saingannya Hillary Clinton.

Yang menarik adalah 94 persen donasi yang Obama terima berasal dari massa pemilih yang menyumbang kurang dari 200 dollar AS. Nilai ini bukanlah sesuatu yang “wah” di sana. Nilai tersebut adalah angka yang biasa saja dan tidak lebih daripada sekedar ongkos makan dan bertahan hidup semata. Sama seperti kasus Prita, nilai ini juga bisa disamakan sebagai “recehan”.

Lalu pernah mendengar tentang Temple Baptist Church? Gereja yang berdiri di kota Philadelphia ini memiliki sejarah yang unik. Suatu ketika seorang pendeta, DR.Russel H.Conwell, mendapati sesosok anak perempuan kecil menangis di depan gerejanya. Anak ini sedih karena tidak diperbolehkan masuk ke sekolah minggu di gereja tersebut dengan alasan sudah penuh.

Melihat penampilannya yang “sangat sederhana”, membuat sang pendeta mengetahui alasan sesungguhnya kenapa anak tersebut tidak diijinkan masuk. Maka pendeta ini kemudian membantu gadis kecil tersebut dan membawanya masuk ke Sekolah Minggu di dalam gereja itu.

Dua tahun kemudian, gadis tersebut meninggal. Pendeta Russel diminta untuk membawakan prosesi pemakamannya secara sederhana. Selepas itu, ruang tidur si gadis dirapikan, sebuah dompet usang, kumal dan sobek-sobek ditemukan.

Di dalamnya ditemukan uang receh sejumlah 57 sen dan secarik kertas bertuliskan tangan, yang isinya: “Uang ini untuk membantu pembangunan gereja kecil agar gereja tersebut bisa diperluas sehingga lebih banyak anak anak bisa menghadiri ke Sekolah Minggu”.

Mata si pendeta berkaca-kaca ketika membaca “surat wasiat” tersebut. Sebuah perusahaan koran yang besar mengetahui berita ini dan mempublikasikannya terus-menerus. Sampai akhirnya seorang Pengembang membaca berita ini dan menawarkan suatu lokasi yang berada di dekat gereja kecil itu dengan harga hanya senilai 57 sen. Para anggota jemaat juga dengan sukarela turut memberikan sumbangan dan berhasil mengumpulkan dana sebesar 250.000 dollar, yang saat itu nilainya setara dengan emas seberat 1 ton.

Saat ini Temple Baptist Church memiliki kapasitas duduk 3.300 orang dan Temple University menjadi tempat beribu-ribu murid teologi belajar. Di sekitar gedung gereja itu dibangun Good Samaritan Hospital dan sebuah bangunan spesial untuk Sekolah Minggu yang lengkap dengan beratus ratus pengajarnya, untuk memastikan jangan sampai ada satu anak pun yang tidak mendapat tempat di Sekolah Minggu. Di dalamnya terpampang foto si gadis kecil yang berdampingan dengan foto Pendeta Russel. Semua hal ini dimulai “hanya” dari 57 sen.

Tema APP tahun ini yang bertajuk “Mari Bekerjasama Melawan Kemiskinan” sedikit banyak juga mengulas hal serupa. Bahwasanya kemiskinan adalah sesuatu yang perlu diberantas. Oleh sebab itu, setiap umat beriman dituntut saling bekerjasama untuk mampu melawannya.

Tidak ada seorangpun yang mampu berjuang sendirian melawan kemiskinan, namun kita semua dipanggil untuk saling mengulurkan tangan memberi bantuan. Siapapun Anda, seminim apapun pemberian Anda (bahkan tidak dalam bentuk materi), jangan pernah malu apalagi menyerah. Ingatlah bahwa dengan segenggam “recehan”, Prita Mulyasari bebas dari vonis 240 juta, Barrack Obama menjadi Presiden AS, dan seorang gadis kecil dapat membangun sebuah gereja mewah.

Jangan pernah remehkan “recehan” kalau sudah berada di tangan Tuhan. Sama seperti ketika para murid hanya memiliki 5 roti dan 2 ikan untuk modal makan 5.000 orang.

Mustahil?

Tak usahlah dipikirkan, tugas kita hanya “Bawalah kemari kepada-Ku” (Matius 14 : 18). ***(Aurelius)

March 5, 2010

Mother Teresa

Where there is desperation, may I bring hope.

Where there is sadness, let me bring joy.

Allow me to console rather than be consoled.

To understand rather than to be understood.

To love rather than to be loved.

Because giving is receiving.

Because it is in forgiving that we are forgiven.

It is in dying that we are born to eternal life

Novena Santo Yudas Tadeus

Doa pada saat masalah datang atau apabila tampak kehilangan semua bantuan yang ada, untuk masalah yang hampir tidak ada jalan keluarnya.

Rasul yang suci SANTO YUDAS TADEUS, pelayan dan sahabat Yesus yang setia, Gereja semesta menghormati dan memohon sebagai penolong dari masalah-masalah yang tidak ada jalan keluarnya. Doakanlah aku, karena merasa sendirian dan tidak mempunyai penolong.

Aku mohon kepadamu. Gunakanlah kekuatan khusus yang diberikan untuk memberikan kepadaku bantuan nyata dan sesegera mungkin disaat aku merasa bantuan itu hampir tidak ada. Dampingilah aku dalam kebutuhanku, masalah dan penderitaanku khususnya ........ (sebut permintaan anda) sehingga aku akan memuji Tuhan bersamamu dan semua orang terpilih selamanya. Aku berjanji, oh SANTO YUDAS TADEUS, untuk selalu mengingat bantuan besar ini selalu menghormatimu sebagai Rasul yang istimewa dan perkasa, dan untuk mengingatkan devosi kepadamu. Amin.

SANTO YUDAS TADEUS berdoa untuk kita dan mendengarkan doa kita. Amin.

Terberkatilah HATI KUDUS YESUS,

Terberkatilah HATI MARIA YANG TAK BERNODA.

Terberkatilah SANTO YUDAS TADEUS diseluruh bumi dan selalu sepanjang masa. Amin.

*Didoakan 6 kali sehari, selama 9 hari berturut-turut
*Tinggalkan 9 lembar salinan doa ini setiap hari (dapat juga ditulis ulang), selama 9 hari berturut-turut
*Doa akan dijawab pada hari kesembilan atau sebelumnya dan belum pernah gagal.

March 4, 2010

Timeless

Waktu bukan milik siapa-siapa. Tak ada seorang pun yang mampu menjajah waktu dan menguasai semaunya. Semua justru terkungkung dalam ikatan waktu yang berdetak secara periodik, dan nyatanya kita terpaksa harus menyesuaikan diri dengan iramanya.

Runtutan musim yang bergulir mewarnai perjalanan bumi sepanjang tahun tak luput dari itikad sang waktu. Bahkan tahun itu sendiri juga adalah produksi dari waktu yang tiada mampu ditangkal oleh siapapun. Semua hidup dalam arus perputaran bumi yang disebut masa. Dan lagi-lagi, masa adalah bagian dari dogma besar bernama waktu.

Ketika tahun ini sudah menunjukkan akhir dari perjalanannya, maka waktu mulai dipertanyakan dan diulas kembali oleh sebagian besar manusia. Mereka mulai berhitung dengan waktu. Ada yang mencoba memacu waktu tersisa agar dapat memetik hasil di tahun mendatang. Atau ada juga yang berupaya melihat waktu terlewat sebagai dasar melangkah dan menilai sejauh mana perkembangan pribadinya sepenuh tahun ini.

Aku? Duduk di serambi rumah lantai dua seraya menghabiskan waktu dengan “facebook-an” dan sebatang coklat almond di tangan. Latar di luar rumah tidak begitu bagus malam ini. Bunyi gerimis berdenting nyaring berpadu dengan suara atap yang dihujani rintik-rintiknya. Angin Desember yang menyebarkan aroma hujan merasuk dalam radius beberapa meter. Dan udara dingin merambat perlahan mengganggu konsentrasiku menghabiskan coklat.

Memperhatikan status update beberapa kawan serta mengomentarinya menjadi pembunuh waktu di kala lowong ini. Sehabis bekerja seharian, apalagi ditambah mesti menerjang hujan ketika pulang tadi, rasanya semua hilang ketika menatap layar laptop dengan sebatang coklat almond di tangan.

Oh ya, tak ketinggalan status available di Yahoo Messenger terpampang jelas di layar laptop, menandakan diriku yang siap dan bebas untuk berinteraksi dengan siapapun. Inilah saat di mana aku bisa menjadi total 100%. Setiap ekspresi diri dapat tersalurkan dan terungkap nyata dalam sisa ruang waktu yang sering terasa sempit ini.

Andai semua orang dapat mengatur waktu sekehendak hatinya. Mereka bebas memilih masa-masa yang menyenangkan dan membekukannya dalam suatu periode, lalu tinggal di dalamnya. Tidak ada lagi yang namanya kenangan, karena setiap orang dapat memutar waktu dan hidup dalam kekiniannya masing-masing. Penyesalan sudah tentu lenyap karena manusia mampu mengkoreksi jenjang waktu yang sudah usai. Secarik khayalan liar ditemani petir yang menggelegar.

Penyesalan dan kenangan memang selalu menjadi momok dalam perputaran arus waktu. Sekecap kenangan manis ataupun sebentuk sesal akibat kesalahan yang pernah terjadi tiada akan mampu untuk diulang dan diperbaiki lagi. Seluruhnya berlalu dalam dinamika waktu yang akhirnya melahirkan sebuah babak baru dalam hidup. Setiap manusia kemudian berjuang melakoni adegan-adegan baru yang muncul tersebut.

Kenangan dan penyesalan memang unsur waktu yang tidak dapat kita ganggu gugat selama masih hidup dalam lingkaran bumi ini. Namun ada unsur lain dari waktu yang mungkin bisa kita “manipulasi” sedemikian rupa. Namanya adalah pengalaman. Tidak seperti kenangan dan penyesalan yang muncul seusai terjadinya waktu, pengalaman justru hadir selama kita hidup. Pengalaman tidak berhenti pada satu titik, tetapi terus berjalan selama kita mampu memaknainya. Dan pengalaman juga tak pernah eksklusif, karena kita boleh dan bisa mengambilnya dari orang lain. Pengalaman orang lain yang bertutur seputar kisah hidup, duka-lara, segala kenangan dan penyesalannya dapat pula menjadi bagian pengalaman kita.

Mustahil seseorang mampu untuk merangkum segala kejadian di dunia ini, namun pengalaman membungkus waktu yang telah lampau menjadi setitik asa untuk dipelajari. Ketika kenangan dan penyesalan memberikan alasan bagi seseorang untuk “berhenti”, maka pengalaman mengajak setiap pribadi untuk melangkah dalam sebuah arah tujuan hidup yang baru.

Tiba-tiba Nokia Tune yang kupasang sebagai penanda pesan berbunyi, pertanda inbox bertambah. Rangkaian kata-kata bagus seketika menghiasi layar hape-ku :

“As long as we have memories, yesterday remains. As long as we have hope, tomorrow awaits. As long as we have relationship, each day is never a waste”

Sebait pesan singkat ini dari seseorang yang pernah hadir dan menggoreskan kenangan manis dalam hidupku. Memang kenangan membuat hari kemarin tetap bertahan, namun yang membuat manusia mampu menjalani masa depannya tiada lain adalah sebuah harapan. Harapan yang bersumber dari pengalaman hidup yang kita maknai selama ini. Terkungkung dalam kenangan dan penyesalan tidak akan memecahkan masalah, namun mengolahnya menjadi sebuah pengalaman hidup akan menjadi resep jitu untuk menghantar kita memasuki gerbang tahun yang baru.

Raja Daud pernah menulis : ”Dahulu aku muda, sekarang telah menjadi tua, tetapi tidak pernah kulihat orang benar ditinggalkan…” (Mazmur 37:25). Inilah contoh doa yang berasal dari ungkapan hati pengalamannya bersama Allah.

Terimakasih Bapa karena Engkau selalu hadir dalam setiap langkah kehidupanku. Aku percaya bahwa Engkau akan tetap menemaniku di masa-masa mendatang kehidupanku. Pengalaman hidup bersama-Mu adalah sebuah misteri yang terlalu berharga untuk dilewatkan, dan selalu kunantikan petualangan-petualangan baru bersama-Mu. Amin. (Aurelius)

Lima Belas Penyiksaan Rahasia Terhadap Yesus, Anak Allah, Penebus Dunia

Rahasia ini diungkapkan kepada orang suci, kekasih Allah, St. Maria Magdalena, Claris Fransiska yang hidup, meninggal dan digelar suci di Roma.

Yesus memenuhi keinginan suster ini, yang berharap sungguh supaya memahami sesuatu mengenai PENYIKSAAN RAHASIA yang dialami Yesus, pada malam menjelang Yesus diadili dan dihukum mati.

Bangsa Yahudi menganggapKu sebagai Manusia yang paling celaka, yang hidup dimuka bumi ini; dan karenanya:

  1. Mereka membelenggu kakiKu dan menyeretKu di atas batu-batu anak tangga, turun menuju ke sebuah ruangan kotor dan menjijikan dibawah tanah.
  2. Mereka menanggalkan pakaianKu, lalu mencambuki badanKu dengan cambuk yang bersimpul besi.
  3. Mereka melilitkan tali pada badanKu, lalu menarikKu sepanjang lapangan, dari ujung ke ujung.
  4. Mereka menggantungKu pada sekeping kayu dengan simpul hidup dan mudah terbuka, sehingga Ak jatuh. Dengan siksa sedemikian ini, Aku menangis dengan air mata darah.
  5. Mereka mengikatKu pada sebuah tonggak, lalu menusukKu dengan kayu yang bercabang.
  6. Mereka memukulKu dengan batu, dan memangganKu dengan bara api dan obor.
  7. Mereka menusukKu dengan jarum besar, ujung yang menyerupai tombak runcing merobek kulitKu, daging dan urat-uratKu mencuat keluar dari badanKu.
  8. Mereka mengikatKu pada sebuah tonggak dan menyuruh berdiri tanpa alaas kaki, pada sekeping besi panas membara.
  9. Mereka memahkotaiKu dengan mahkota besi, menutup mukaKu dengan kain yang kotor dekil. 
  10. Mereka mendudukan Aku pada sebuah kursi yang dipasang paku-paku tajam, yang menyebabkan luka-luka yang dalam pada badanKu.
  11. Mereka menyurami luka-lukaKu dengan timah hitam dan damar cair, kemudian mereka menggecet-Ku pada kursi yang berpaku-paku, sehingga paku-paku ini menusuk membenam masuk semakin dalam dan lebi dalam lagi kedalam tubuhKu.
  12. Supaya malu dan makin sengsara, mereka menusukkan jarum-jarum dilubang pori janggutKu yang sudah dicabuti. Lalu lenganKu diikatkan ke punggungKu dan mereka menggiringKu keluar dari penjara, dibarengi tamparan-tamparan dan pukulan-pukulan.
  13. Mereka menghempaskanKu pada sebuah salib dan mengikatKu sedemikan kencangnya, sehingga Aku hampir tidak bisa bernafas sama sekali.
  14. Mereka mendorong keras kepalaKu, sehingga Aku jatuh telentang ke tanah, lalu mereka menginjakKu yang menyakitkan dadaKu. Kemudian mereka mencopot duri mahkotaKu dan mencucukannya ke lidahKu.
  15. Mereka menuangkan kedalam mulutKu kotoran-kotoran yang sangat busuk dan menjijikan, sebab mereka kehabisa cara-cara penyiksaan yang sadis-keji kepadaKu.

Lalu Yesus bersabda:
    Anak-Ku! Aku menghendaki supaya kamu menyampaikan kepada siapa saja, ke-LIMA BELAS PENYIKSAAN RAHASIA ini, supaya masing-masing mereka dimuliakan. Siapa saja yang setiap hari mempersembahkan kepadaKu, dengan kasih sayang, salah satu dari pendereitaanKu ini, dan mengucapkan dengan sungguh-sungguh doa ini, akan dikaruniakan kemuliaan kekal baginya, pada hari penghakiman. 

    "MARILAH BERDOA"

    Ya Yesus Anak Allah yang maha kuasa, kami bernazar dengan sungguh-sungguh demi memulikan namaMu, dalam kelima belas penyiksaan rahasia ini, sebab darahMu yang Maha Suci sudah dicurahkan bagi kami. Kami memuliakan, mengagungkan dan menyembahMu ya kasih yang abadi, Yesus Kristus, demi hatiMu yang Maha Suci, darahMu yang Maha Murni, pengorbananMu yang Maha Mulia, bagi kami bangsa manusia; juga kami memuliakan Sakramen Mahakudus di AltarMu, Bunda Maria Yang Suci Murni, Sembilan Paduan Suara mulia para Malaikat dan Darah Suci para Kudus. Sebagaimana banyaknya pasir di samudra dan gandum di ladang; banyaknya rumput di padang dan buah-buahan di kebun; banyaknya daun-daun di pohon dan bunga-bunga di taman; banyaknya bintang di angkasa, para malaikat di surga dan banyaknya makhluk di muka bumi, kami semua hamba-hambaMu, memuliakan, mengagungkan dan menyembahMu; kini selalu dan sepanjang segala masa. AMIN.

    March 2, 2010

    Miskin

    Dikisahkan dalam Injil Lukas, Maria, yang sedang mengandung bayi Yesus, berkunjung ke sebuah kota di Yehuda. Ia hendak melawat Elisabeth, saudarinya yang saat itu juga hamil.

    Selepas Maria memberi salam, anak yang dikandung oleh Elisabeth melonjak kegirangan. Seketika itu juga Elisabeth penuh dengan Roh Kudus, lalu mendaraskan sebuah madah pujian kepada Maria. “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu…” (Lukas 1 : 42)

    Maria pun membalas salam tersebut dengan melantunkan kidung yang kemudian dikenal sebagai Magnificat.

    Isi Kidung ini secara umum menggambarkan bagaimana kuasa Allah hadir dan menjadi nyata bagi mereka yang menderita, direndahkan dan kelaparan (Lukas 1 : 51-53). Melalui syair ini, Maria seolah sedang menyuarakan keberpihakannya kepada kaum marjinal yang tersingkirkan kala itu.

    Mengapa Ada Orang Miskin?

    Menurut Karl Marx, orang miskin timbul akibat eksploitasi kapitalis dari kaum pemilik modal terhadap para buruh (proletar). Di satu pihak, kaum kapitalis merupakan pemilik dari semua kebutuhan hidup, bahan-bahan mentah dan alat-alat kerja, dimana kemudian para buruh terpaksa menjual tenaga kerja mereka kepada sejumlah kaum kapitalis ini untuk sejumlah upah yang paling banter hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya saja.

    Sedangkan kaum kapitalis semakin mengembangkan modal yang diperolehnya dari “nilai lebih” barang produksi yang dikerjakan oleh para buruh, maka semakin dalam pula lumpur kemiskinan yang menjerat massa pekerja tersebut. Pada akhirnya lingkaran setan ini tiada pernah selesai dalam alam kapitalis. Pemilik modal semakin kaya, para proletar kian jatuh miskin.

    Doktrin Calvinis -yang amat ditentang oleh Marx- menganggap bahwa kemiskinan merupakan nasib yang sudah digariskan dan harus diterima dengan pasrah.

    Pandangan dalam dunia politik menyebutkan bahwa kemiskinan timbul karena gagalnya peranan good governance dalam penyelenggaraan pemerintahan yang berpihak kepada rakyat. Yang terjadi justru para elit menyalahgunakan kekuasaan demi kepentingan pribadinya dan semata-mata untuk memperkaya diri sendiri. Syahdan, pemiskinan terhadap rakyat tak terhindarkan.

    Secara ilmu ekonomi, pada dasarnya sumber daya yang ada di bumi ini terbatas sedangkan keinginan manusia tidak terbatas. Untuk memenuhi keinginannya, maka manusia harus saling mempertukarkan dan meraih sebanyak mungkin sumber daya yang dapat dimilikinya. Jadilah, orang saling berkompetisi untuk dapat memiliki sumber daya yang tersedia.

    Hasil kompetisi inilah yang pada akhirnya melahirkan kelas-kelas dalam masyarakat. Ada kelas si banyak harta yang disebut sebagai “orang kaya”, dan kelas “orang miskin” sebagai antonimnya. Kembali lagi kepada Marx, menurutnya kelas-kelas demikian yang membuat pembedaan dalam kehidupan sosial. Maka dari itu, perbedaan kelas harus ditiadakan agar setiap manusia dapat hidup dengan tenteram.

    Menurut Gereja Katolik?

    “Pertama-tama perlu diakui bahwa kondisi hal-hal yang melekat di dalam urusan manusia harus dipikul/ ditanggung, sebab adalah tidak mungkin untuk mereduksi masyarakat menjadi hanya satu tingkatan yang mati. Kaum sosialis dapat saja berusaha sekeras mungkin, namun semua kerja keras yang melawan hukum kodrat itu akan sia-sia. Secara alamiah, di antara manusia [memang] terdapat berbagai perbedaan…. orang-orang berbeda dalam kemampuan, keahlian, kesehatan dan kekayaan yang tidak sama sebagai hasil dari kondisi yang berbeda. Perbedaan ini jauh dari merugikan, baik terhadap individu maupun masyarakat. Kehidupan sosial dan publik hanya dapat dipertahankan dengan adanya bermacam bentuk kemampuan usaha dan peran dari banyak bagian-bagian; dan setiap orang memilih bagian yang sesuai dengan kondisi khususnya masing-masing……” (Rerum Novarum, 17)

    Ensiklik yang ditulis oleh Paus Leo XIII tersebut menerangkan bagaimana pandangan Greja Katolik dalam memaknai terjadinya perbedaan kelas dalam masyarakat. Secara singkat dijelaskan bahwa adalah sia-sia segala upaya yang hendak mereduksi seluruh aspek masyarakat menjadi 1 kelas saja. Karena –lagi menurut beliau- perbedaan adalah sesuatu yang alamiah dan kodrati, sehingga revolusi kelas bukanlah jalan keluar terbaik dalam menyikapi ketidakadilan dalam masyarakat, yang ditandai oleh kelas buruh-majikan, orang kaya-miskin.

    Gereja tidak menyetujui adanya usaha-usaha dalam memberantas kemiskinan secara ekstrim. Di sisi lain, Gereja juga tidak mendukung segala alasan yang membuat setiap orang terikat dengan hak milik pribadinya (baca: kapital) hingga tidak mau berbagi dengan sesama.

    “Hak atas milik pribadi, yang diusahakan sendiri atau yang diwarisi atau diterima dari orang lain, tidak menghilangkan kenyataan bahwa bumi ini pada awalnya diberikan kepada seluruh umat manusia. Bahwa harta benda ditentukan untuk semua manusia, tetap tinggal prioritas pertama….(Katekismus Gereja Katolik, 578)

    “Oleh karena itu manusia, sementara menggunakannya, harus memandang hal-hal yang lahiriah yang dimilikinya secara sah bukan hanya sebagai miliknya sendiri, melainkan juga sebagai milik umum, dalam arti bahwa hal-hal itu dapat berguna, tidak hanya bagi dirinya sendiri, melainkan juga bagi sesamanya” (Gaudium et spes # 69, 1)

    Orang Miskin Berbahagia?

    Surat Gembala Prapaska 2010, Bapa Uskup dengan tegas menjawab: ”Tidak. Yesus tidak menghendaki agar kemiskinan dipertahankan”. Allah sama sekali tidak menciptakan manusia untuk bergelut dalam kemiskinan. Justru tujuan awal kehidupan manusia adalah untuk menaklukkan dan menguasai bumi (Kej 1 : 28).

    Lalu bagaimana dapat dibilang kalau orang miskin itu berbahagia?

    Kata “miskin” tertulis sebanyak 121 kali dalam Alkitab dan setidaknya ada 245 referensi mengenai si miskin. Kebanyakan berupa ungkapan penghiburan, bahwa pertolongan Allah akan datang dan melepaskan mereka dari penderitaan yang selama ini menderanya.

    Akan tetapi, nyatanya sampai sekarang masih saja ada orang miskin di seluruh dunia. Alkitab sendiri belum bisa membantu memberikan solusi nyata untuk menghapus kesenjangan yang termaktub secara jelas dalam pola pembagian strata lapisan sosial di masyarakat. Ironisnya, situasi semacam ini malah bertumbuh subur di dalam beberapa komunitas gerejawi.

    Kemiskinan juga menjadi salah satu pemicu meningkatnya persentase kejahatan. Alih-alih membantu orang lain, si miskin acapkali menjadi aktor utama penyebab gangguan keamanan. Dalil utamanya: “Kalau perut sudah lapar, apa saja menjadi halal”.

    Pertama-tama, perlu dipahami bahwa Allah memang menciptakan manusia sebagai mahakarya untuk “menguasai dan menaklukkan” seisi bumi. Akan tetapi semenjak kejatuhan manusia pertama ke dalam dosa (Kej 3), Allah menghukum seluruh keturunan Adam sehingga harus bekerja “bersusah payah mencari rezeki” dan “dengan berpeluh mencari makanan” (Kej 3 :17-19).

    Alam yang dahulu diserahkan kepada manusia, kini menjadi liar dan mesti diupayakan dengan keras oleh semua orang. Dosa yang terus menyebar kemudian melahirkan segala macam bentuk persaingan ekonomi demi mempertahankan ego masing-masing. Penjajahan, perang, pengkhianatan menjadi teman seperjalanan yang paling sering tergambar dalam runutan kisah sejarah hidup manusia, sampai saat ini.

    Hubungan eksploitatif seseorang terhadap manusia lainnya tercipta. Dan seperti kata Marx, kelas-kelas sosial pun muncul dengan sendirinya. Bola salju bernama “dosa” telah bergulir, dan semakin besar, menyebabkan terjadinya rupa-rupa ketidakadilan, kemiskinan, kesenjangan serta penderitaan dalam kehidupan sosial di dunia.

    Allah menyadari hal tersebut. Melalui Yesus, Allah menyatakan rancangan keselamatan-Nya : “menyampaikan kabar baik kepada orang miskin, memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, membebaskan orang yang tertindas, dan memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang” (Luk 4 : 18-19).

    Paskah yang kita peringati sekarang menjadi pembuktian perkataan Yesus bahwa “orang miskin selalu ada padamu, tetapi Aku tidak akan selalu bersama-sama kamu” (Mat 26 : 11). Peristiwa kebangkitan-Nya membawa sebuah harapan baru bagi setiap orang beriman. Harapan baru ini terungkap dalam perjanjian baru yang ditandai oleh penumpahan darah-Nya dalam peristiwa salib. Perjanjian baru itu pula yang kini dikenal sebagai Ekaristi (Markus 14 : 24).

    Ekaristi menghantarkan setiap orang pada satu persaudaraan iman yang sama akan Yesus Kristus. Paulus sendiri mengamini hal ini dengan mengatakan bahwa “…tidak ada hamba atau orang merdeka…karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus” (Galatia 3 : 28)

    Konsekuensinya, Karena kita semua sudah menjadi satu akibat makan dari Roti yang sama, dan minum dari cawan Anggur yang sama pula, maka anda dan saya turut diajak untuk mengerjakan rancangan keselamatan yang sudah diletakkan oleh Allah, melalui Yesus Kristus.

    Dan itu artinya, perbedaan kuantitas daya ekonomi bisa saja muncul, tetapi tidak boleh ada seorangpun yang dieksploitasi, menderita dan ditepikan karenanya. Anda dan saya diundang untuk “menyampaikan kabar baik kepada orang miskin” sehingga “berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya keajaan Allah”.

    Barulah kita dapat mengasah watak untuk melaksanakan tema APP tahun ini dengan mantap: “Mari Bekerjasama Melawan Kemiskinan”. (Aurelius)

    Devosi Demi Menyucikan Tetesan Darah Yesus Allah Manusia yang Mengucur Dijalan Menuju Kalvari

    Salinan Surat Orasi Yesus ini, aslinya ada di Makam Suci Yerusalem, disemayamkan dalam sebuah peti perak oleh Bapa Suci dan para Raja dan Ratu iman Kristus.

    St. Elisabeth, Ratu Hungaria, dengan St. Mathilda bersama St. Brigita, ingin mengetahui sesuatu dari Kisah Sengsara Yesus, mempersembahkan doa-doa khusus dan sungguh-sungguh dimana kemudian Yesus Anak Allah Penyelamat Manusia menampakkan diriNya dan menjelaskan kepada Santa-Santa ini, begini:

    ** Aku Yesus, mucul dari Surga hadir di dunia ini, demi memperbaiki iman manusia. Pada jaman dahulu banyak manusia yang sungguh-sungguh beriman, dan panenan mereka berlimpah-limpah; namun kini sebaliknya, manusia yg sungguh-sungguh beriman jarang ada.

    ** Kalau kamu ingin memanen hasil yg berlimpah, janganlah bekerja pada hari Minggu, sebab kamu harus ke gereja dan berdoa kepada Allah, demi menyesali dosa-dosamu. Allah BapaKu sudah memberi kamu enam hari kerja dan sehari istirahat, supaya mempersembahkan kurban, menolong orang miskin dan melayani gereja.

    ** Barang siapa yg berkeras memusuhi agamaKu dan meremehkan Surat Orasi Suci ini akan Kusangkal, sebaliknya barang siapa yang selalu membawa salinan Orasi Suci ini; akan dibebaskan dari mati tenggelam dan dari ajal mendadak. Akan dibebaskan dari segala penyakit menular dan sambaran kilat. Belum bisa meninggal dunia sebelum mengaku dosa. Akan dibebaskan dari penguasa yg lalim dan dari semua pengadu dan saksi palsu.

    ** Ibu-ibu yang dalam bahaya melahirkan, dengan memelihara Orasi Suci Yesus ini, segera sanggup menguasai keadaannya. Di rumah-rumah yang menyimpan Orasi Suci ini tak akan mengalami gangguan iblis. 40 hari sebelum ajalnya, lelaki maupun peremupan yang memliki Orasi Suci ini, Bunda Suci Murni Maria akan menampakkan diri padanya. Demikian disampaikan oleh St. Gregorius.


    ** Bagi orang yang percaya, yang mau mendaraskan doa setiap hari selama 3 tahun: 2x (Bapa Kami, Salam Maria, Kemuliaan) demi memuliakan "Semua Tetesan DarahKu yang Hilang", Aku akan melimpahkan lima karunia ini:
    1. Indulgensia penuh dan pengampunan dosa-dosanya.
    2. Dibebaskan dari sengsara dan siksa dosa di Api Penyucian.
    3. Bila anda meninggal sebelum menyelesaikan doa selama tahun ini, bagi anda dianggap sebagai sudah menyelesaikannya.
    4. Dengan begini, pada kematian anda sama saja anda suda menyerahkan semua darah anda, demi Iman Suci.
    5. Aku akan turun dari surga dan menyongsong jiwa anda dan sanak saudara anda, sampai generasi yang ke-empat.

      CAMKANLAH:
      • Jumlah serdadu yang dipersenjatai ada 150
      • Yang menghelaKu dalam keadaan dibelenggu 23
      • Algojo-algojo pengadilan ada 83
      • Penamparan ke kepalaKu sebanyak 150 kali
      • Peninjuan ke perutKu sebanyak 108 kali
      • Sepakkan ke punggungKu sebanyak 80 kali
      • Aku ditarik pada rambut yang dijalin sebagai tali 24 kali
      • Peludahan ke mukaKu sebanyak 180 kali
      • Badanku dicambuki sebanyak 6666 kali
      • KepalaKu dipalu sebanyak 110 kali
      • Aku didorong dengan keras pada jam 12:00, rambutKu dijambak, kepalaKu ditekan dengan duri-duri, dan janggutKu ditarik 24 kali
      • Mendapat luka dikepala 20
      • Luka karena cambukan kawat 72
      • Luka dalam karena duri dikepala 1110
      • Luka dalam karena duri di dahi ada 3
      • Aku kemudian dilucuti dan dikenakan pakaian sebagai Raja Palsu
      • Bilur dibadanKu ada 1000
      • Serdadu-serdadu yang menggiringKu menuju Kalvari 608
      • Yang memperhatikan Aku dengan sungguh-sungguh ada 3; dan yang menghinaKu sebanyak 1008
      • Tetesan DarahKu yang hilang terbuang ada 28.430


      (Benedetta DA S.S., Pope Leo XIII, In Roma 5 Aprile 1890)