March 4, 2010

Timeless

Waktu bukan milik siapa-siapa. Tak ada seorang pun yang mampu menjajah waktu dan menguasai semaunya. Semua justru terkungkung dalam ikatan waktu yang berdetak secara periodik, dan nyatanya kita terpaksa harus menyesuaikan diri dengan iramanya.

Runtutan musim yang bergulir mewarnai perjalanan bumi sepanjang tahun tak luput dari itikad sang waktu. Bahkan tahun itu sendiri juga adalah produksi dari waktu yang tiada mampu ditangkal oleh siapapun. Semua hidup dalam arus perputaran bumi yang disebut masa. Dan lagi-lagi, masa adalah bagian dari dogma besar bernama waktu.

Ketika tahun ini sudah menunjukkan akhir dari perjalanannya, maka waktu mulai dipertanyakan dan diulas kembali oleh sebagian besar manusia. Mereka mulai berhitung dengan waktu. Ada yang mencoba memacu waktu tersisa agar dapat memetik hasil di tahun mendatang. Atau ada juga yang berupaya melihat waktu terlewat sebagai dasar melangkah dan menilai sejauh mana perkembangan pribadinya sepenuh tahun ini.

Aku? Duduk di serambi rumah lantai dua seraya menghabiskan waktu dengan “facebook-an” dan sebatang coklat almond di tangan. Latar di luar rumah tidak begitu bagus malam ini. Bunyi gerimis berdenting nyaring berpadu dengan suara atap yang dihujani rintik-rintiknya. Angin Desember yang menyebarkan aroma hujan merasuk dalam radius beberapa meter. Dan udara dingin merambat perlahan mengganggu konsentrasiku menghabiskan coklat.

Memperhatikan status update beberapa kawan serta mengomentarinya menjadi pembunuh waktu di kala lowong ini. Sehabis bekerja seharian, apalagi ditambah mesti menerjang hujan ketika pulang tadi, rasanya semua hilang ketika menatap layar laptop dengan sebatang coklat almond di tangan.

Oh ya, tak ketinggalan status available di Yahoo Messenger terpampang jelas di layar laptop, menandakan diriku yang siap dan bebas untuk berinteraksi dengan siapapun. Inilah saat di mana aku bisa menjadi total 100%. Setiap ekspresi diri dapat tersalurkan dan terungkap nyata dalam sisa ruang waktu yang sering terasa sempit ini.

Andai semua orang dapat mengatur waktu sekehendak hatinya. Mereka bebas memilih masa-masa yang menyenangkan dan membekukannya dalam suatu periode, lalu tinggal di dalamnya. Tidak ada lagi yang namanya kenangan, karena setiap orang dapat memutar waktu dan hidup dalam kekiniannya masing-masing. Penyesalan sudah tentu lenyap karena manusia mampu mengkoreksi jenjang waktu yang sudah usai. Secarik khayalan liar ditemani petir yang menggelegar.

Penyesalan dan kenangan memang selalu menjadi momok dalam perputaran arus waktu. Sekecap kenangan manis ataupun sebentuk sesal akibat kesalahan yang pernah terjadi tiada akan mampu untuk diulang dan diperbaiki lagi. Seluruhnya berlalu dalam dinamika waktu yang akhirnya melahirkan sebuah babak baru dalam hidup. Setiap manusia kemudian berjuang melakoni adegan-adegan baru yang muncul tersebut.

Kenangan dan penyesalan memang unsur waktu yang tidak dapat kita ganggu gugat selama masih hidup dalam lingkaran bumi ini. Namun ada unsur lain dari waktu yang mungkin bisa kita “manipulasi” sedemikian rupa. Namanya adalah pengalaman. Tidak seperti kenangan dan penyesalan yang muncul seusai terjadinya waktu, pengalaman justru hadir selama kita hidup. Pengalaman tidak berhenti pada satu titik, tetapi terus berjalan selama kita mampu memaknainya. Dan pengalaman juga tak pernah eksklusif, karena kita boleh dan bisa mengambilnya dari orang lain. Pengalaman orang lain yang bertutur seputar kisah hidup, duka-lara, segala kenangan dan penyesalannya dapat pula menjadi bagian pengalaman kita.

Mustahil seseorang mampu untuk merangkum segala kejadian di dunia ini, namun pengalaman membungkus waktu yang telah lampau menjadi setitik asa untuk dipelajari. Ketika kenangan dan penyesalan memberikan alasan bagi seseorang untuk “berhenti”, maka pengalaman mengajak setiap pribadi untuk melangkah dalam sebuah arah tujuan hidup yang baru.

Tiba-tiba Nokia Tune yang kupasang sebagai penanda pesan berbunyi, pertanda inbox bertambah. Rangkaian kata-kata bagus seketika menghiasi layar hape-ku :

“As long as we have memories, yesterday remains. As long as we have hope, tomorrow awaits. As long as we have relationship, each day is never a waste”

Sebait pesan singkat ini dari seseorang yang pernah hadir dan menggoreskan kenangan manis dalam hidupku. Memang kenangan membuat hari kemarin tetap bertahan, namun yang membuat manusia mampu menjalani masa depannya tiada lain adalah sebuah harapan. Harapan yang bersumber dari pengalaman hidup yang kita maknai selama ini. Terkungkung dalam kenangan dan penyesalan tidak akan memecahkan masalah, namun mengolahnya menjadi sebuah pengalaman hidup akan menjadi resep jitu untuk menghantar kita memasuki gerbang tahun yang baru.

Raja Daud pernah menulis : ”Dahulu aku muda, sekarang telah menjadi tua, tetapi tidak pernah kulihat orang benar ditinggalkan…” (Mazmur 37:25). Inilah contoh doa yang berasal dari ungkapan hati pengalamannya bersama Allah.

Terimakasih Bapa karena Engkau selalu hadir dalam setiap langkah kehidupanku. Aku percaya bahwa Engkau akan tetap menemaniku di masa-masa mendatang kehidupanku. Pengalaman hidup bersama-Mu adalah sebuah misteri yang terlalu berharga untuk dilewatkan, dan selalu kunantikan petualangan-petualangan baru bersama-Mu. Amin. (Aurelius)

No comments: