March 2, 2010

Miskin

Dikisahkan dalam Injil Lukas, Maria, yang sedang mengandung bayi Yesus, berkunjung ke sebuah kota di Yehuda. Ia hendak melawat Elisabeth, saudarinya yang saat itu juga hamil.

Selepas Maria memberi salam, anak yang dikandung oleh Elisabeth melonjak kegirangan. Seketika itu juga Elisabeth penuh dengan Roh Kudus, lalu mendaraskan sebuah madah pujian kepada Maria. “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu…” (Lukas 1 : 42)

Maria pun membalas salam tersebut dengan melantunkan kidung yang kemudian dikenal sebagai Magnificat.

Isi Kidung ini secara umum menggambarkan bagaimana kuasa Allah hadir dan menjadi nyata bagi mereka yang menderita, direndahkan dan kelaparan (Lukas 1 : 51-53). Melalui syair ini, Maria seolah sedang menyuarakan keberpihakannya kepada kaum marjinal yang tersingkirkan kala itu.

Mengapa Ada Orang Miskin?

Menurut Karl Marx, orang miskin timbul akibat eksploitasi kapitalis dari kaum pemilik modal terhadap para buruh (proletar). Di satu pihak, kaum kapitalis merupakan pemilik dari semua kebutuhan hidup, bahan-bahan mentah dan alat-alat kerja, dimana kemudian para buruh terpaksa menjual tenaga kerja mereka kepada sejumlah kaum kapitalis ini untuk sejumlah upah yang paling banter hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya saja.

Sedangkan kaum kapitalis semakin mengembangkan modal yang diperolehnya dari “nilai lebih” barang produksi yang dikerjakan oleh para buruh, maka semakin dalam pula lumpur kemiskinan yang menjerat massa pekerja tersebut. Pada akhirnya lingkaran setan ini tiada pernah selesai dalam alam kapitalis. Pemilik modal semakin kaya, para proletar kian jatuh miskin.

Doktrin Calvinis -yang amat ditentang oleh Marx- menganggap bahwa kemiskinan merupakan nasib yang sudah digariskan dan harus diterima dengan pasrah.

Pandangan dalam dunia politik menyebutkan bahwa kemiskinan timbul karena gagalnya peranan good governance dalam penyelenggaraan pemerintahan yang berpihak kepada rakyat. Yang terjadi justru para elit menyalahgunakan kekuasaan demi kepentingan pribadinya dan semata-mata untuk memperkaya diri sendiri. Syahdan, pemiskinan terhadap rakyat tak terhindarkan.

Secara ilmu ekonomi, pada dasarnya sumber daya yang ada di bumi ini terbatas sedangkan keinginan manusia tidak terbatas. Untuk memenuhi keinginannya, maka manusia harus saling mempertukarkan dan meraih sebanyak mungkin sumber daya yang dapat dimilikinya. Jadilah, orang saling berkompetisi untuk dapat memiliki sumber daya yang tersedia.

Hasil kompetisi inilah yang pada akhirnya melahirkan kelas-kelas dalam masyarakat. Ada kelas si banyak harta yang disebut sebagai “orang kaya”, dan kelas “orang miskin” sebagai antonimnya. Kembali lagi kepada Marx, menurutnya kelas-kelas demikian yang membuat pembedaan dalam kehidupan sosial. Maka dari itu, perbedaan kelas harus ditiadakan agar setiap manusia dapat hidup dengan tenteram.

Menurut Gereja Katolik?

“Pertama-tama perlu diakui bahwa kondisi hal-hal yang melekat di dalam urusan manusia harus dipikul/ ditanggung, sebab adalah tidak mungkin untuk mereduksi masyarakat menjadi hanya satu tingkatan yang mati. Kaum sosialis dapat saja berusaha sekeras mungkin, namun semua kerja keras yang melawan hukum kodrat itu akan sia-sia. Secara alamiah, di antara manusia [memang] terdapat berbagai perbedaan…. orang-orang berbeda dalam kemampuan, keahlian, kesehatan dan kekayaan yang tidak sama sebagai hasil dari kondisi yang berbeda. Perbedaan ini jauh dari merugikan, baik terhadap individu maupun masyarakat. Kehidupan sosial dan publik hanya dapat dipertahankan dengan adanya bermacam bentuk kemampuan usaha dan peran dari banyak bagian-bagian; dan setiap orang memilih bagian yang sesuai dengan kondisi khususnya masing-masing……” (Rerum Novarum, 17)

Ensiklik yang ditulis oleh Paus Leo XIII tersebut menerangkan bagaimana pandangan Greja Katolik dalam memaknai terjadinya perbedaan kelas dalam masyarakat. Secara singkat dijelaskan bahwa adalah sia-sia segala upaya yang hendak mereduksi seluruh aspek masyarakat menjadi 1 kelas saja. Karena –lagi menurut beliau- perbedaan adalah sesuatu yang alamiah dan kodrati, sehingga revolusi kelas bukanlah jalan keluar terbaik dalam menyikapi ketidakadilan dalam masyarakat, yang ditandai oleh kelas buruh-majikan, orang kaya-miskin.

Gereja tidak menyetujui adanya usaha-usaha dalam memberantas kemiskinan secara ekstrim. Di sisi lain, Gereja juga tidak mendukung segala alasan yang membuat setiap orang terikat dengan hak milik pribadinya (baca: kapital) hingga tidak mau berbagi dengan sesama.

“Hak atas milik pribadi, yang diusahakan sendiri atau yang diwarisi atau diterima dari orang lain, tidak menghilangkan kenyataan bahwa bumi ini pada awalnya diberikan kepada seluruh umat manusia. Bahwa harta benda ditentukan untuk semua manusia, tetap tinggal prioritas pertama….(Katekismus Gereja Katolik, 578)

“Oleh karena itu manusia, sementara menggunakannya, harus memandang hal-hal yang lahiriah yang dimilikinya secara sah bukan hanya sebagai miliknya sendiri, melainkan juga sebagai milik umum, dalam arti bahwa hal-hal itu dapat berguna, tidak hanya bagi dirinya sendiri, melainkan juga bagi sesamanya” (Gaudium et spes # 69, 1)

Orang Miskin Berbahagia?

Surat Gembala Prapaska 2010, Bapa Uskup dengan tegas menjawab: ”Tidak. Yesus tidak menghendaki agar kemiskinan dipertahankan”. Allah sama sekali tidak menciptakan manusia untuk bergelut dalam kemiskinan. Justru tujuan awal kehidupan manusia adalah untuk menaklukkan dan menguasai bumi (Kej 1 : 28).

Lalu bagaimana dapat dibilang kalau orang miskin itu berbahagia?

Kata “miskin” tertulis sebanyak 121 kali dalam Alkitab dan setidaknya ada 245 referensi mengenai si miskin. Kebanyakan berupa ungkapan penghiburan, bahwa pertolongan Allah akan datang dan melepaskan mereka dari penderitaan yang selama ini menderanya.

Akan tetapi, nyatanya sampai sekarang masih saja ada orang miskin di seluruh dunia. Alkitab sendiri belum bisa membantu memberikan solusi nyata untuk menghapus kesenjangan yang termaktub secara jelas dalam pola pembagian strata lapisan sosial di masyarakat. Ironisnya, situasi semacam ini malah bertumbuh subur di dalam beberapa komunitas gerejawi.

Kemiskinan juga menjadi salah satu pemicu meningkatnya persentase kejahatan. Alih-alih membantu orang lain, si miskin acapkali menjadi aktor utama penyebab gangguan keamanan. Dalil utamanya: “Kalau perut sudah lapar, apa saja menjadi halal”.

Pertama-tama, perlu dipahami bahwa Allah memang menciptakan manusia sebagai mahakarya untuk “menguasai dan menaklukkan” seisi bumi. Akan tetapi semenjak kejatuhan manusia pertama ke dalam dosa (Kej 3), Allah menghukum seluruh keturunan Adam sehingga harus bekerja “bersusah payah mencari rezeki” dan “dengan berpeluh mencari makanan” (Kej 3 :17-19).

Alam yang dahulu diserahkan kepada manusia, kini menjadi liar dan mesti diupayakan dengan keras oleh semua orang. Dosa yang terus menyebar kemudian melahirkan segala macam bentuk persaingan ekonomi demi mempertahankan ego masing-masing. Penjajahan, perang, pengkhianatan menjadi teman seperjalanan yang paling sering tergambar dalam runutan kisah sejarah hidup manusia, sampai saat ini.

Hubungan eksploitatif seseorang terhadap manusia lainnya tercipta. Dan seperti kata Marx, kelas-kelas sosial pun muncul dengan sendirinya. Bola salju bernama “dosa” telah bergulir, dan semakin besar, menyebabkan terjadinya rupa-rupa ketidakadilan, kemiskinan, kesenjangan serta penderitaan dalam kehidupan sosial di dunia.

Allah menyadari hal tersebut. Melalui Yesus, Allah menyatakan rancangan keselamatan-Nya : “menyampaikan kabar baik kepada orang miskin, memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, membebaskan orang yang tertindas, dan memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang” (Luk 4 : 18-19).

Paskah yang kita peringati sekarang menjadi pembuktian perkataan Yesus bahwa “orang miskin selalu ada padamu, tetapi Aku tidak akan selalu bersama-sama kamu” (Mat 26 : 11). Peristiwa kebangkitan-Nya membawa sebuah harapan baru bagi setiap orang beriman. Harapan baru ini terungkap dalam perjanjian baru yang ditandai oleh penumpahan darah-Nya dalam peristiwa salib. Perjanjian baru itu pula yang kini dikenal sebagai Ekaristi (Markus 14 : 24).

Ekaristi menghantarkan setiap orang pada satu persaudaraan iman yang sama akan Yesus Kristus. Paulus sendiri mengamini hal ini dengan mengatakan bahwa “…tidak ada hamba atau orang merdeka…karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus” (Galatia 3 : 28)

Konsekuensinya, Karena kita semua sudah menjadi satu akibat makan dari Roti yang sama, dan minum dari cawan Anggur yang sama pula, maka anda dan saya turut diajak untuk mengerjakan rancangan keselamatan yang sudah diletakkan oleh Allah, melalui Yesus Kristus.

Dan itu artinya, perbedaan kuantitas daya ekonomi bisa saja muncul, tetapi tidak boleh ada seorangpun yang dieksploitasi, menderita dan ditepikan karenanya. Anda dan saya diundang untuk “menyampaikan kabar baik kepada orang miskin” sehingga “berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya keajaan Allah”.

Barulah kita dapat mengasah watak untuk melaksanakan tema APP tahun ini dengan mantap: “Mari Bekerjasama Melawan Kemiskinan”. (Aurelius)

No comments: